Membumikan Dakwah Filantropi kepada Masyarakat
MAZAWA.CO — KH. Ahmad Dahlan (1868-1923), pendiri
Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330/18 November 1912, pernah membuat murid-muridnya
bertanya-tanya kebenaran saat memberi pelajaran tafsir. Ketika menafsirkan
surat al-Ma’un (Al-Quran surah 107) secara berulang-ulang tanpa diteruskan
dengan surah-surah lain, Dahlan sebenarnya sedang menguji kepekaan batin para
muridnya dalam memahami Al-Quran, apakah sekedar untuk dibaca atau langsung
diamalkan.
Baru para murid itu paham bahwa Al-Quran itu fungsinya bukan hanya
di baca dan di hafalkan tetapi setelah di baca dan di hafal kita kaji secara
komprehensif apa yang ada dalam isi ayat-ayat Al-Quran itu. Dengan tahu nya
murid-murid kiai dahlan langsung mengaktualisasikan dalam gerakan aksi sosial,
mulailah para murid mencari orang-orang miskin, anak yatim untuk diberi makan
disekitar kauman Yogyakarta, untuk disantuni dan berdayakan diberi pelajaran
ilmu-ilmu agama oleh kyai Dahlan. Sehingga, dari gerakan aksi sosialnya beliau
mempunyai Lembaga Pendidikan yaitu sekolah yang didirikan di rumahnya sendiri
dengan langsung memakai konsep modern yang kiai dahlan terapkan di kauman,
memakai bangku, meja, papan tulis. Sampai mengajar pun kiai dahlan memakai
media alat musik yaitu biola.
Ditangan kiai dahlan surat al-Ma’un disulap
menjadi aksi nyata dalam kehidupan sehinnga membumikan dunia dengan berdirinya
ribuan amal usaha Muhammadiyah, dengan Gerakan aksi sosial nya terus di
gaungkan sampai sekarang. Dengan suatu jargon nya yang kita tahu “sedikit
bicara banyak bekerja” kiai dahlan berhasil memasyarakatkan masyarakat dengan
Gerakan aksi sosialnya beserta murid-muridnya, kyai dahlan hanya penjual batik
yang terus berjalan dalam kehidupanya sambil berdakwah dikalangan
masyarakatnya, kyai dahlan belajar memasyarakatnya dengan cara meolong umatnya
dari kesengsaraan kehidupanya, kiai dahlan mampu menyelamatkan umat pada masa
itu dengan pengumpulan zakat,infak,sedekah. pertama kali pada waktu itu dia melakukan
Bersama muridnya, ketika menengok
sejarah pengumpulan zakat di Indonesia KH. Ahmad Dahlan dan murid-murid nya
yang pertama kali melaukukan pengumpulan zakat dengan cara modern di zaman pra
kemerdekaan.
Dakwah sosial filantropi yang terus di bumikan oleh KH. Ahmad
Dahlan sampai sekarang dirasakan oleh semua kalangan di Indonesia, melalui Pendidikan,
Rumah Sakit serta Panti asuhan dan gerakan sosial lainnya. Islam adalah suatu
agama yang rahmatan lil’alamin. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk
mewujudkan kehidupan yang adil, makmur,sejahtera,dan harmonis antara si kaya
dan si miskin, kapan dan di manapun berada. Maka dengan itu KH. Ahmad Dahlan
mewujudkan islam dalam bentuk kesejateraan umat bukan menyengsarakan umat.
Organisasi yang didirikannya yaitu Muhammadiyah pada masa sekarang mempunyai
gagasan filantropi, muhammadiyah menghadirkan LAZISMU sebagai lembaga yang
mengelola dana Zakat, Infaq, dan Shadaqah.
ZISWAF bukanlah momok yang harus
ditakuti oleh ummat islam, sebab ZISWAF diyakini
sebagai ibadah yang berfungsi menyeimbangkan relasi sosial. Hal itu yang
menjadi acuan Hilman Latief, ketua Lazismu menggagas hal tersebut. Dakwah
filantropi harus terus kita tegakkan pada ruang-ruang kosong yaitu umat islam
sekarang. Mari kita belajar memasyarakatkan masyarakat dengan merealisasikan
tiga aspek tersebut, Zakat, Infak, dan Sedekah.[]
Oleh: Ibnu Salam


No comments for "Membumikan Dakwah Filantropi kepada Masyarakat"
Post a Comment
Gunakan bahasa serta tanda baca yang baik dan benar. Dilarang spam di kolom komentar, dan menaruh link aktif yang tidak sesuai dengan artikel dalam website ini!